
Semarang – Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro (FIB UNDIP) sukses menggelar kegiatan UNDIP Global Classroom (UGC) untuk mata kuliah Sinematografi Sejarah pada tanggal 11 Mei 2026. UGC tersebut menghadirkan Dr. Noor Huda Ismail sebagai dosen tamu untuk mengisi mata kuliah Sinematografi Sejarah tersebut. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa sejarah dan umum melalui Zoom yang digunakan untuk mendapatkan dan membatu mahasiswa dalam mata kuliah Sinematografi Sejarah.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Sekretaris Program Studi S1 Sejarah, Dr. Rabith Jihan Amaruli, M.Hum. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa Prodi Sejarah Undip memiliki mata kuliah Sinematografi Sejarah. Mata kuliah ini diberikan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk membuat film dokumenter sejarah. Mata kuliah ini memiliki luaran berupa film dokumenter yang dibuat oleh mahasiswa selama satu semester. Dalam satu semester, mahasiswa melakukan pemilihan tema, riset, pengambilan gambar, editing, dan pagelaran film sejarah. Kegiatan UGC ini diharapkan mampu membatu mahasiswa sejarah dalam proses pembuatan film dokumenter sejarah sebagai luaran mata kuliah.

Dr. Noor Huda Ismail yang berasal dari Nanyang Technological University, Singapura menyampaikan materi tentang sinematografi sejarah: Storytelling, Conflict, and Memory Throught Film. Dr. Noor Huda Ismail banyak membuat film dokumenter, salah satunya adalah film terbarunya adalah “Jihad Selfie.” Ia juga sering membuat film dokumenter dengan storytelling yang digunakan untuk mengungkapkan sisi lain dari kenapa seseorang melakukan suatu hal.
Dr. Noor Huda dalam materinya menyampaikan tentang bagaimana sinematografi sejarah seaagai metode dalam membuat film dokumenter. Ia menyatakan bahwa film dokumenter sebagai alat yang dapat digunakan untuk menyimpan atau mendokumentasikan ingatan seseorang atau masyarakat. Film dokumenter merupakan hasil dari kombinasi antara riset berdasarkan tulisan terkait, berita, dan kisah atau peristiwa yang divisualkan dalam bentuk film. Film dokumenter dapat digunakan sebagai alat untuk merekam kisah atau cerita seseorang yang belum pernah diceritakan atau ketahui oleh orang lain sebelum terjadinya konflik yang melibatkan orang tersebut. Sehingga, film dokumenter dapat digunakan sebagai wadah untuk menentang atau mengubah stereotip terhadap hal-hal yang terjadi pada orang-orang tertentu.

Dr. Noor Huda menjelaskan bahwa film dokumenter dapat mengubah cara pandang kita tentang orang-orang atau isu tertentu. Dengan film dokumenter kita dapat melihat latar belakang kenapa orang melakukan suatu hal. Film juga dapat digunakan sebagai suatu media yang dapat dilihat oleh siapa pun dalam skala nasional ataupun internasional.
Kegitan UGC ini diakhiri dengan menonton salah satu film karya Dr. Noor Huda Ismail dengan judul “Road to Resilience.” Film dokumenter ini membahas tentang seorang yang sempat bergabung dengan organisasi teroris di Suriah yang bernama Febri. Film ini menceritakan tentang bagaimana proses penjemputan mereka dari Suriah dan kembali ke Indonesia, kenapa bergabung dan bagaimana setelah kembali ke Indoneisa. Film ini juga memperlihatkan penolakan dari salah satu tokoh dengan pemulangan mereka yang tergabung dengan organisasi teroris. Setelah penontonan film, kemudian diteruskan dengan diskusi.

UGC ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi mahasiswa Sejarah Undip dan peserta yang hadir. Selain itu, UGC ini diharpakan dapat membantu mahasiswa untuk menyelesaikan film dokumenter sebagai tugas luaran mata kuliah mereka. Lebih jauh lagi, diharapkan UGC ini memberikan pengalaman dan menjadi bekal mereka dalam memiliki skil di bidang pembuatan film dokumenter.