Belajar dari Masa Lalu Kedah Tua: Studi Kasus Perkembangan Hindu dan Buddha di Malaysia

Semarang – Sebagai bagian dari program Undip Global Classroom 2026 (UGC 2026), Program Studi S1 Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro mengadakan kuliah tamu internasional (international guest lecture) dalam mata kuliah Sejarah Asia Tenggara. Perkuliahan tersebut diadakan pada Selasa, 5 Mei 2026, pukul 09.00-11.30 WIB melalui platform Zoom. PM Dr. Nazarudin bin Zainun dari History Section, School of Humanities, Universiti Sains Malaysia, hadir sebagai narasumber yang mengangkat fokus pembahasan pada studi kasus perkembangan Hindu dan Buddha di Kedah Tua, Malaysia. Kegiatan ini ditujukan khusus untuk mahasiswa mata kuliah Sejarah Asia Tenggara sebagai upaya memperkaya perspektif akademik lintas negara sekaligus mendukung internasionalisasi kurikulum.

Dalam presentasinya, Dr. Nazarudin mengulas mengenai dinamika penyebaran pengaruh India di Asia Tenggara dengan memberikan kritik terhadap teori “Indianisasi” yang konvensional. Beliau menekankan pentingnya memahami bahwa proses yang terjadi di Kedah Tua bukanlah imitasi langsung atau kolonisasi budaya, melainkan sebuah proses “aktif” dengan masyarakat lokal memiliki peran aktif dalam memilih dan menyesuaikan unsur budaya asing. Beliau juga menyoroti bagaimana narasi sejarah kerap didominasi oleh sudut pandang Barat-sentris, seperti teori empat gelombang pengaruh India dari H.G. Quaritch-Wales, yang cenderung mengabaikan agensi atau kemampuan masyarakat lokal. Oleh karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk mengeksplorasi konsep Local Genius sebagai basis untuk melihat bagaimana unsur-unsur India diadaptasi, seperti pada penggunaan material lokal (kayu dan nipah) dalam arsitektur candi serta ketiadaan penggunaan bahasa Sansekerta pada prasasti-prasasti di Kedah Tua.

Pembahasan juga menyentuh perbedaan metodologis dalam melihat bukti-bukti arkeologis, termasuk temuan manik-manik yang terbukti diproduksi secara lokal dan bukan barang impor. Dr. Nazarudin menegaskan bahwa warisan Hindu-Buddha di Kedah Tua merupakan hasil asimilasi dan interaksi budaya yang bersifat hibrida, sehingga sejarah kawasan ini tidak boleh dipahami hanya sebagai bayang-bayang budaya India, melainkan sebagai bentuk adaptasi kreatif masyarakat setempat. Kuliah tamu ini memberikan kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk berdialog langsung dengan akademisi internasional dan memperluas cakrawala pemahaman mereka tentang sejarah kawasan. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen Program Studi S1 Sejarah Universitas Diponegoro dalam membangun jejaring akademik internasional serta mempersiapkan lulusan yang memiliki wawasan global dan kepekaan terhadap keragaman sejarah regional.